Musim Hujan, Petani Jatiluwih Daerah (Tabanan) Tanam Padi Beras Merah
Tabanan (beritadewata.com) - Musim hujan dimanfaatkan petani Jatiluwih,
Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan untuk tanam padi beras merah.
Sejak Kamis (12/1/2012) pagi kemarin, petani setempat tidak beranjak
dari pematang sawah. Hampir pasti mereka bergotong royong dari satu
pematang ke pematang sawah lain menancapkan benih padi beras merah
organik secara berjajar.
"Maklum, musim tanam padi beras merah hanya sekali dalam setahun, beda dengan padi biasa, " jelas I Wayan Semara Jaya petani Jatiluwih.
Padi beras merah organik Jatiluwih musim tanamnya setiap awal tahun bulan Januari dan panennya awal bulan Juni. "Karena umurnya sampai lima bulan dari mulai tanam hingga panen," tambahnya.
Menurutnya, hasil panen padi beras merah organik setiap tahunnya mengalami peningkatan. "Tahun 2011 lalu, rata-rata satu hektar hasilnya 5 ton," tandasnya.
Hasil panen padi beras merah terus meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya menghasilkan 4,1 ton per hektarnya. Untuk harga pasca panen gabah kering panen Rp 4500 per kilogram, sedangkan harga gabah kering gilingnya harga pasaran Rp 7500. "Kebanyakan petani disini tidak mau menjual padi dengan pola pajegan," tambahnya.
Dikatakan, petani lebih senang memanen hasilnya meskipun menggunakan jasa buruh dari desa setempat karena hasilnya akan lebih tinggi dibandingkan menjual dengan para tengkulak.Terkait hama, padi beras merah diakuinya tahan hama seperti wereng. "Hama tikus sempat ada tapi tidak sampai membuat padi petani gagal panen," tandasnya.
Kebutuhan pupuk organik setiap petani Jatiluwih menggunakan 1 ton untuk 1 hektar lahan.Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Desa Jatiluwih I Wayan Muliada mengatakan petani jatiluwih mendapatkan bantuan dana dari L embaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). Dananya telah cair bulan November 2011 lalu sebesar Rp 116,5 Juta. "Dana itu telah masuk ke rekening pekaseh," tandasnya.
Kegunaan dana bergulir itu nantinya diawasi oleh para petani dan sebagai penanggung jawab adalah pekaseh. "Pemberian bantuan dana untuk kebutuhan pupuk organik ini kedepan bertujuan untuk merangsang petani di jatiluwih memproduksi sendiri pupuk organik ," pungkasnya.
"Maklum, musim tanam padi beras merah hanya sekali dalam setahun, beda dengan padi biasa, " jelas I Wayan Semara Jaya petani Jatiluwih.
Padi beras merah organik Jatiluwih musim tanamnya setiap awal tahun bulan Januari dan panennya awal bulan Juni. "Karena umurnya sampai lima bulan dari mulai tanam hingga panen," tambahnya.
Menurutnya, hasil panen padi beras merah organik setiap tahunnya mengalami peningkatan. "Tahun 2011 lalu, rata-rata satu hektar hasilnya 5 ton," tandasnya.
Hasil panen padi beras merah terus meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya menghasilkan 4,1 ton per hektarnya. Untuk harga pasca panen gabah kering panen Rp 4500 per kilogram, sedangkan harga gabah kering gilingnya harga pasaran Rp 7500. "Kebanyakan petani disini tidak mau menjual padi dengan pola pajegan," tambahnya.
Dikatakan, petani lebih senang memanen hasilnya meskipun menggunakan jasa buruh dari desa setempat karena hasilnya akan lebih tinggi dibandingkan menjual dengan para tengkulak.Terkait hama, padi beras merah diakuinya tahan hama seperti wereng. "Hama tikus sempat ada tapi tidak sampai membuat padi petani gagal panen," tandasnya.
Kebutuhan pupuk organik setiap petani Jatiluwih menggunakan 1 ton untuk 1 hektar lahan.Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Desa Jatiluwih I Wayan Muliada mengatakan petani jatiluwih mendapatkan bantuan dana dari L embaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). Dananya telah cair bulan November 2011 lalu sebesar Rp 116,5 Juta. "Dana itu telah masuk ke rekening pekaseh," tandasnya.
Kegunaan dana bergulir itu nantinya diawasi oleh para petani dan sebagai penanggung jawab adalah pekaseh. "Pemberian bantuan dana untuk kebutuhan pupuk organik ini kedepan bertujuan untuk merangsang petani di jatiluwih memproduksi sendiri pupuk organik ," pungkasnya.






0 komentar:
Posting Komentar