Serbuk Beras Merah Natural (SBMN) berasal dari beras merah pilihan yang berkualitas. Diolah secara higienis dengan pengawasan mutu yang ketat. Serbuk Beras Merah Natural (SBMN) mengandung serat, protein, lemak, karbohidrat, vitamin A, B, B komplek dan E,mineral, enzim serta tidak mengandung bahan pengawet sehingga dapat disajikan sebagai minuman kesehatan alami.

Sabtu, 15 Maret 2014

IKON BERAS MERAH GUNUNGKIDUL

WONOSARI (KR)
 
- Keinginan Bupati Gunungkidul untuk menjadikan beras merah sebagai
ikon daerah mendekati kenyataan. Uji lapangan sudah selesai dilakukan.
Sementara sekitar bulan Juli akan dilakukan uji genetika di Balai
Pengembangan Teknologi Pertanian (BPTP), Fakultas Biologi UGM dan PBSB.
“Yang akan diuji varietas beras merah Mandel dan Slegreng,” kata Kepala
Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Gunungkidul Ir Dwinggo Nirwanto
didampingi Kabid Produksi Supriyadi STP kepada KR Jumat (14/3). 


Secara umum padi merah Mandel dan Slegreng sudah lama dibudidayakan petani Gunungkidul. Hampir seluruh wilayah cocok untuk jenis tersebut. Kedua
varietas beras merah tersebut seakan sudah menjadi milik petani
Gunungkidul sejak dulu kala. Untuk menjaga kemurnian varietas, Dinas
Pertanian dan Tanaman Gunungkidul berusaha melakukan pemuliaan. 


Diakui,varietas Mendel dan Slegreng produksinya tidak setinggi beras IR 64 dan lainnya, tetapi harga jualnya lebih tinggi. Produksi rata-rata sekitar
4 ton hingga 5 ton satu hektar. Namun, jika beras biasa harganya
sekitar Rp 5 ribu, beras merah dapat mencapai Rp 8 ribu tiap kilogram.
Dari segi pertumbuhan, petani juga suka karena batangnya tinggi besar
dan buahnya lebat. “Secara psikologis petani merasa puas menyaksikan
panenan beras merah ini,” kata Dwinggo Nirwanto.. Wakil Bupati
Gunungkidul Hj Badingah SSos berharap petani tidak perlu ragu lagi
untuk menanam padi yang menghasilkan beras merah, karena sekarang ini
mulai bermunculan rumah-rumah makan dengan menu beras merah. Selain
eksotik gizinya juga lebih tinggi dibanding beras biasa. “Karena itu
beras merah memang layak dikembangkan,”

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More